Sore itu.

Bulan pucat tergantung di jendela
Di ufuk mendung membayang rupa
Menggurat sepi dalam kelam malam
Kedip lemah gemintang
Menemani aku dalam sendiriku
Terhanyut dalam derik jangkrik yang merindu
.
.
Kutatap satu bintang
Dia menatap balik
Aku tersenyum.
Setidaknya dapat kubagi langit menjadi dua, tiga, empat, sejuta
Sebanyak pasang mata
Yang menatap langit yang sama

Kulihat bulan
Kuceritakan padanya kisahku
Tentang ketidakmampuanku
Menghapus angan semu dalam benak
Yang selalu kembali bersama angin timur dalam derai hujan
Kutatap lama rembulan hingga ia gunakan mendung untuk bersembunyi
Guruh datang, gerimis membayangi.

I miss you.
.

Kalasan, April 2016

-khu

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s